Tampilkan postingan dengan label Artikel Kayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kayu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2012

Tinjauan Pustaka Perekat MDI Diethyl Methane Diisosianat

By Unknown | At 09.43 | Label : , | 0 Comments
perekat kayu, perekat mdi

Perekat Diethyl Methane Diisosianat (MDI)


Perekat (adhesive) adalah suatu zat atau bahan yang memiliki kemampuan untuk mengikat dua benda melalui ikatan permukaan (Blomquist et al. 1983). Perekat MDI merupakan salah satu jenis perekat isosianat. Perekat ini unggul dalam proses aplikasi dan mutu produknya, bergantung kepada reaktivitas yang tinggi dari isosianat radikal �N-C-O. Polaritas yang kuat membuat senyawa pembawa radikal ini memiliki bukan hanya potensi adesi yang tinggi, tetapi juga sangat potensial membentuk ikatan kovalen dengan substrat yang memiliki hidrogen yang reaktif. Ketika satu molekul mengandung dua isosianat radikal seperti dalam diisosianat, molekul akan bergabung secara adesif dengan kemampuan mengembangkan gaya kohesif dalam proses polimerisasi dengan molekul sesamanya.

Perekat ini umum digunakan selain karena mutunya yang baik, juga karena perekat ini memiliki volatilitas yang rendah. Rumus molekul dari MDI adalah C15H10O2N2, berat molekul 250,25 g/mol, titik leleh 40�C, titik didih 314 �C. Perbedaan perekat MDI dengan perekat phenol formaldehida (PF) dan urea formaldehida (UF) adalah : pada perekat PF dan UF ikatan terjadi secara mekanis dimana perekat akan masuk kedalam pori-pori kayu dan mengeras sehingga membentuk jangkar perekatan.

Pada perekat MDI, selain terjadi ikatan mekanis seperti pada perekat PF dan UF, perekat ini pun membentuk ikatan kimia. Secara kimia isosianat bereaksi dengan gugus hidroksil yang terdapat dalam kayu membentuk ikatan poliuretan diantara partikel kayu. Secara fisik isosianat akan bereaksi dengan air yang terdapat pada kayu dan membentuk poliurea. Isosianat cenderung bereaksi dengan air, hal ini merugikan karena isosianat yang matang pada kayu yang mengandung air cenderung membentuk ikatan yang rapuh (Weaver dan Owen 1992).

Meskipun kinerja perekat isosianat telah diketahui sangat baik, tetapi pemakaian perekat ini kurang populer, hal ini disebabkan karena harga perekat ini relatif mahal. Kualitas perekat ini dapat diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Massijaya (1997, 1998) pada pembuatan papan partikel limbah kertas koran, kadar perekat 2% menghasilkan keteguhan lentur yang lebih besar dari perekat urea formaldehida dan fenol formaldehida dengan kadar 10%.

Kamis, 19 Juli 2012

Tinjauan Pustaka Kayu Akasia Acacia Mangium

By Unknown | At 06.35 | Label : , , , | 0 Comments

Kayu Akasia (Acacia mangium Willd)


Akasia mangium (Acacia mangium Willd.) termasuk dalam sub famili Mimosoideae, famili Leguminose dan ordo Rosales. Penyebaran jenis ini mencakup Australia Timur Laut, Papua Nugini, Maluku dan Irian Jaya (Gunawan 1999, diacu dalam Azizah 2005). Jenis ini merupakan jenis pohon cepat tumbuh yang relatif berumur pendek (30-50 tahun). Akasia tumbuh pada daerah dengan curah hujan tahunan dengan variasi antara 1.000 mm/th sampai lebih dari 4.500 mm/th dan mempunyai suhu rata-rata 12-16 �C (Dursalam 1987, diacu dalam Hendrik 2005).

Akasia termasuk kedalam kelompok pohon yang hijau sepanjang tahun (evergreen). Tinggi pohon dapat mencapai 30 meter dengan tinggi bebas cabang mencapai setengah dari tinggi total. Kulit Akasia berwarna abu-abu atau cokelat dengan tekstur yang kasar dan berkerut. Daun berupa philodia (daun palsu) yang berukuran besar berwarna hijau gelap, dengan ukuran panjang mencapai 25 cm dan lebar antara 3-10 cm. Bunga berkelamin ganda dengan warna putih atau kuning (Danida Forest Seed Centre 2000).

Kayu Akasia memiliki ciri umum antara lain kayu teras berwarna cokelat pucat sampai cokelat tua, kadang-kadang cokelat zaitun sampai cokelat kelabu, batasnya tegas dengan gubal yang berwarna kuning pucat sampai kuning jerami. Sifat fisik kayu Akasia yaitu berat jenis rata-rata 0,63 (0,43-0,66); termasuk kedalam kelas awet III dan kelas kuat II-III. Kegunaannya antara lain sebagai bahan baku konstruksi ringan sampai berat, rangka pintu dan jendela, perabot rumah tangga, lantai, papan dinding, tiang, tiang pancang, selain itu baik juga untuk kayu bakar dan arang (Mandang & Pandit 2002).

Saat ini pohon Akasia telah banyak ditanam, terutama di Benua Asia. Kegunaan utama kayu Akasia adalah sebagai bahan baku pembuatan kertas, fungsi lainnya sebagai kayu bakar, kayu konstruksi dan bahan baku furniture. Tegakannya berguna sebagai pengendali erosi, tempat tinggal bagi hewan dan sebagai peneduh. Sifat yang bernilai dari jenis ini adalah kemampuannya untuk berkompetisi dengan rumput (Imperata cylindrica), sehingga dapat mengurangi jumlah rumput pada tanah yang penutupan lahannya jarang.
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Cerita Lucu Serba Unik - All Rights Reserved inovLy media online by inforZa